Jalan Menuju Kejayaan

Tentang Saya

HIDUP-5116AD – Eddy Berutu 

Suara Hati Membangun Kampung Halaman

- Ia pada usia yang matang. Masih energik dengan bermobilitas tinggi. Secara finansial, ia tidak bakal kekurangan. Tetapi, ada bisikan kuat di hatinya untuk pulang membangun kampung halamannya. 

PERJALANAN karir pria bernama Eddy Keleng Ate Berutu ini menunjukkan ia seorang yang multi-talen. Ia lulusan S-1 Teknik Sipil, Universitas Parahyangan Bandung, dan Pendidikan Akhli Teknik di Institute Teknolog Bandung tetapi justru mengawali karir di PT Matari Advertising. Jabatan terakhir yang diembannya adalah Kepala Divisi Direct Marketing dan Sales Promotion. 
Setelah itu, sejak 1996, ia justru menggeluti dunia keuangan: General Manager dan Vice President PT Bank Permata, dahulu PTBank Bali Tbk (1996-2001), Direktur PT Prudential Life Assurance (200-2005), Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (2005-2008), Presiden Direktur PT Media Asuransi (2007-2008), Direktur dan Presiden Direktur PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanartha (2008-2012), Direktur Pacific Insurance Conference Ltd Hongkong. Ia bersama-sama dengan partner juga mendirikan sejumlah perusahan yang masih eksis sampai sekarang: PT JUMA Matawari (2011), PT JUMA Beraspati Indonesia (2015), dan PT JUMA WIAL Indonesia (2015), PT. Ture Ugari Nusantara. 

Sejumlah jabatan penting di lembaga keuangan boleh dibilang sudah cukup menggambarkan integritas seseorang. Lembaga keuangan adalah sektor yang paling regulatif. Seseorang yang dipercaya menjabat harus melalui fit and proper test dari regulatyor dalam hal ini Otoritas Jasa Keyuangan (OJK), dan diyakini sebagai orang yang berintegritas. Eddy merasakan, bagaimana ia harus dituntut sebagai orang yang bertanggung jawab, bersih, berintegritas, jujur, dan profesional memimpin lembaga-lembaga keuangan itu, seperti misalnya PT. Bank Bali (sekarang Bank Permata), di PT Prudential sebagai bagian dari Prudential plc, grup perusahaan jasa keuangan terkemuka di Inggris dan Perusahaan Asuransi Wanartha Belum lagi, lembaga keuangan memang berada dalam pengawasan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebagai memangku jawaban penting di PT Prudential Indonesia, Eddy menyadari bahwa ia bersama direksi lainnya bertanggung jawab atas kelangsungan hidup sekitar 250.000 orang, baik karyawan maupun mitra kerja, dan keluarganya.
Torehan prestasi Eddy yang tidak bisa dikesampingkan adalah ketika ia memimpin di Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Waktu itu, tingkat profesionalisme agen asuransi,  rendah, sehingga masyarakat kehilangan kepercayaan. Ia menghadapi tantangan untuk menjadikan sektor asuransi sebagai industri keuangan yang layak dipercaya. “Yang saya lakukan adalah meningkatkan profesionalitas semua insan yang bekerja di sektor asuransi,” ujar Eddy.
Untuk itu, Eddy mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan agar memberi kuasa kepada AAJI menentukan kode etik pemasaran, quotes of conduct agen, menyusun silabus pelatihan dan menguji tenaga asuransi, dan memonitor praktik penjualan asuransi. Berdasarkan Ketetapan Menteri, AAJI yang dipimpinnya kemudian mempersiapkan bahan pelatihan dan pengujian baik pengetahun maupun keahliannya, serta pemberian sertifikasi. “Program pelatihan, pengujian ini berbasis online: e-learning, dan masih dipakai sampai sekarang. Waktu itu adalah satu-satunya di Indonesia,” kata Eddy.

Ilmu dan Spritualitas
Kemapuan Eddy di bidang pengelolaan bisnis pun diakui oleh Majalah Business Review dengan menganugerahi Eddy sebagai The Best CEO Business Strategic, pada Tahun 2012. Atas prestasi-prestasi yang diraihnya, Eddy mengatakan: “Saya diberi kesempatan memimpin organisasi-organisasi besar. Kekuatan saya berasal dari ilmu, wawasan, metode kerja dan pengalaman. Tetapi, yang paling penting adalah spiritualitas yang antara lain berdasarkan Kitab Suci.”
Eddy, pribadi yang tidak mau berhenti belajar. Selama studi Teknik Sipil pun, bahkan ia juga mengikuti Pendidikan Ahli Teknik Komputer di Institut Teknologi Bandung (1980-1983) Sedikitnya, Eddy mengikuti empat pelatihan/ pendidikan penting di Universitas Malaya-Malaysia, World Institute Action Learning-Amerika, Financial Planning Standard Board Ltd-Denver-USA, dan Singapore College of Insurance.
Tetapi, uniknya, Eddy justru memilih studi S-2 Program Studi Pastoral Konseling di Sekolah Tinggi Theologi Sunergeo Banten. Sedangkan untuk program doktoralnya, ia tempuh di Sekolah Tinggi Theologi IKAT. Ia dinyatakan lulus dengan disertasi berjudul: “Implementasi Stategi Perencanaan Keuangan Asuransi Mikro dalam Mengangkat Derajat Kehidupan Masyarakat di Kabupaten Pakpak Barat, Kabupaten Dairi, dan Kabupaten Tanah Karo, Propinsi Sumatera Utara”.
“Kita harus menjadi bisa terang dan garam bagi masyarakat. Apa yang saya tekuni adalah bagaimana membangkitkan potensi yang ada dalam setiap individu, sekaligus membantu mereka untuk efektif menyelesaikan masalah dan terus belajar. Pada dasaranya semua orang punya potensi, tapi belum melihat dan menyadari potensinya,” kata Eddy. 

Mengabdi Kampung Halaman
Eddy bersyukur, karena selama ini apa saja yang ia inginkan bisa terpenuhi. “Dari sisi material sudah berkecukupan. Anak-anak juga sudah dewasa.  Putri sulung Maria Dimitria Tabitha Berutu  sekarang menimba ilmu di University of Sussex di Brigton, Inggris. Yang kedua Ignatio Edro Humberto Berutu kuliah di Univeritas Binus, sedangkan si bungsu Rod Fredricho menjelangusia 12 tahun. Puji Tuhan! Setelah ini, saya ingin mendedikasikan waktu, pengalaman, pengaruh, jaringan dengan banyak orang di bisnis, baik nasional, regional, maupun international untuk kepentingan lebih banyak orang. Saya merasa, akan efektif kalau mulai berkecimpung dan  memimpinlembaga publik yang mengemban misi pembangunan yang punya otoritas untuk menentukan arah kebijakan publik, demi kepentingan masyarakat luas,” ungkap Eddy, putera kedua dari enam bersaudara, putra-putri Pasutri Drs. Valentin Berutu dan Rosana br. Purba.

Kemana Eddy ingin melayani? Ia mengaku terinspirasi dan ingin meneladan ayahnya, yang lahir dan besar di tengah masyarakat suku Batak Pakpak. Di mata Eddy, ayahnya adalah pekerja keras dan bertekun dalam doa. Ia mendapat kesempatan menjadi pemimpin tertinggi di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XXIII Jember, Jawa Timur. Selama di Jawa, ayahnya membuka kesempatan banyak kaum muda khsusnya dari kampung halamannya untuk belajar di Pulau Jawa. Ayahnya juga membantu mencarikan pekerjaan. 2 orang saudara kandungnya sekarang berkecimpung di lembaga publik, kakaknya Jenny Riani Lucia adalah anggita DPRD propinsi Sumatera Utara, dan adiknya Remigo Yolando Beritu adalah memimpin kabupaten PakpakBharat sebagai Bupati pada periode yang ke-2
Eddy tertantang untuk pulang kampung membangun Kabupaten Dairi. Ia melihat masalah yang harus diselesaikan dan dicarikan solusinya sperti misalnya banyak desa tidak terhubung jalan dengan baik sehingga menghambat konektivitas hasil pertanian dan mobilitas masyrakat. Demikian juga fasilitas listrik yang tidak memadai, sehingga anak-anak tidak bisa belajar. Belum lagi isu mengenai terbatasnya lapangan kerja, pelayanan publik dan sektor usaha, peningkatan kinerja aparatur dan pelayanan kesehatan yang terjangkau. 

Fasilitas lain menurutnya harus dibangun di Dairi adalah pendidikan. Karena Dairi kuat di sektor pertanian, maka pertama-tama adalah melipat gandakan produktivitas dan pendapatan petani, ini tidak bisa dile[paskan dari kualitas SDM Harapannya, anak-anak muda bisa menjadi petani modern. “Intinya, daerah akan maju, jika sumber daya manusianya baik,” tandas Eddy.
Eddy menyadari, kaum awam diutus untuk merasul di segala bidang, termasuk bidang politik. Selain aktif di berbagai organisasi dan komunitas, baik berbasis kekeluargaan, olah raga, maupun partai politik. Saat ini, Eddy adalah Wakil Ketua Vox Point Indonesia, komunitas Katolik yang secara khusus memikirkan kiprah umat Katolik di bidang politik. Eddy juga berkiprah di sebuah partai politik, bahkan dipercaya sebagai Wakil Ketua DPD Sumatera Utara.

Eddy menyadari, tiada syukur tanpa berbagi. Ia ingin berbagi untuk masyarakat Dairi. Sekarang adalah kesempatan baik untuk membaktikan diri, juga memberi inspirasi bahwa masyarakat Katolik punya potensi luar biasa untuk ikut berkecimpung menentukan arah dan jalan negara tercinta. ###