Jalan Menuju Kejayaan

Ridwan Kamil, Risma , Ahok, dan Eddy Berutu, Belajarlah dari Bupati Bantaeng

Mantan staf khusus Mendagri, Umar Syadat Hasibuan meminta agar kepala daerah dan Calon kepala daerah belajar dari Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah bagaimana cara memimpin yang benar.

Secara khusus permintaan Umar Syadat itu ditujukan kepada Walikota Bandung Ridwan Kamil, Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma), dan Plt Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama . “Ridwan Kamil, Risma dan, dan kepada calon Bupati Dairi, Eddy Berutu  kalian belajarlah dari Nurdin Abdullah Bupati Bantaeng cara memimpin yang benar ,” tulis Umar Syadat di akun Twitter @Umar_Hasibuan.

Menurut Umar Syadat, program kerja Nurdin Abdullah bisa menjadi contoh. “Contohlah program kerja Bupati Bantaeng agar kalian tahu bagaimana cara memimpin rakyat dengan baik dan sungguh-sungguh. Nurdin Abdullah berani mengkritisi program “kartu sakti Jokowi”. “Kami tidak pakai kartu-kartu, cukup telepon 113, dokter dan perawat akan datang ke rumah pasien,” ungkap Nurdin seperti dikutip fajar.

Ada yang bilang, jangan membandingkan yang kecil dengan sesuatu yang besar. Tapi jika sesuatu yang kecil mampu lebih baik dari yang besar, itu satu pengecualian lain.

Lihatlah Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, kalau mau membandingkan sesuatu yang kecil dan yang besar. Kabupaten dengan luas 395,83 kilometer persegi itu jauh lebih baik dari berbagai hal dibandingkan kabupaten lain yang lebih besar. Bahkan jika dilihat dari kasat mata saja.

Besar dalam hal ini bukan hanya soal luas wilayah, tapi juga dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Gowa misalnya. Kabupaten penyangga Kota Makassar ini sangat jauh lebih besar dari Bantaeng.

Tapi coba tengok kedua kabupaten ini, lalu simpulkan sendiri.

Total APBD Gowa di 2008 sudah sebesar Rp565 miliar sementara di Bantaeng baru Rp281 miliar. Namun Bantaeng terus melakukan inovasi dan akhirnya mampu memaksimalkan pembangunan jauh lebih baik dari berbagai sektor.

Bantaeng sejak 2009 mulai berbenah dan membangun daerah. Semua sektor disentuh tanpa pengecualian. Bahkan untuk hal paling sederhana seperti sampah menjadi perhatian serius.

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah mengisahkan, rumitnya masa jabatan bupati yang ia emban diawal-awal dirinya berkuasa. Dengan APBD minim, ia dihadang oleh berbagai persoalan yang rumit.

Dimulai dengan banjir yang selalu menghantui, infrastruktur yang rusak parah hingga tingkat perekonomian masyarakat yang merosot. Tidak salah, saat 2008 itu Bantaeng dinobatkan sebagai daerah tertinggal nomor 199 di Indonesia.

Namun bagi Profesor bidang pertanian ini tidak patah arang membangun daerah. Dengan ilmu dan kewibaan yang dimilikinya, Nurdin mampu membalikkan pesimistik masyarakat soal Bantaeng. Daerah perlintasan yang dulunya enggan disinggahi.

Hal pertama yang dilakukan adalah memangkas anggaran yang tidak perlu. Salah satunya, uang makan seluruh pegawai yang menghabiskan anggaran Rp28 miliar dalam setahun.

Anggaran itu ada karena pegawai berkantor hingga Pukul 5.00 sore dengan estimasi lima hari kerja. Ia kemudian mengubahnya menjadi hingga Pukul 2.00 siang dan enam hari kerja. Dengan begitu, pegawai tidak perlu diberi makan.

Ini juga ia terapkan untuk sektor-sektor lain, seperti ATK dan hal-hal kecil. Anggaran yang dipangkas kemudian dialihkan untuk membangun daerah.

Dari anggaran itulah inovasi demi inovasi ia lahirkan. Nurdin juga mengumpulkan akademisi-akademisi dari Universitas Hasanuddin dan Jepang untuk membuat satu terobosan di bidang pertanian.

Ia juga merubah mindset masyarakat dan pegawainya menjadi visioner, tidak berpikir proyek dan keuntungan. Baginya, kerja dulu baru berpikir untung.

“Sebenarnya, APBD bukan jaminan. Yang terpenting adalah niatnya. Niat baik didukung kemampuan, dan bekerja ikhlas,” katanya saat berbincang dengan BicaraID di Pantai Marina, 31 Desember 2015 lalu.

44ed8c77-bc71-49e3-ad9b-ad080a10542a

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah berbincang dengan krue BicaraID

Nurdin Abdullah yakin, persoalan pola pikir atau mindset masyarakat tidak akan bisa dirubah dengan ceramah. Tapi keteladanan yang dicontohkan secara langsung oleh pemimpin. Pemimpin kata dia, juga harus mampu menjadi negarawan.

“2008-2009 itu betul-betul masa sulit. Kita mulai kelihatan tahun 2009. Ternyata di awal saya berjuang jadi bupati, kita dijemput sama banjir. Saya pikir ini sebuah petunjuk, Tuhan perlihatkan pekerjaan,” ungkapnya.

Seperti merubah mindset masyarakat Bantaeng yang awalnya menganggap hujan adalah sebuah musibah akibat terbiasa dengan banjir. Pelan tapi pasti, Nurdin Abdullah mampu merubah hujan di Bantaeng menjadi sebuah berkah bagi masyarakatnya.

Hujan kata dia adalah rahmat dari tuhan. Selain mengajarkan manusia untuk fokus dalam membenahi lingkungan, air hujan juga mampu menghadirkan keseimbangan.

Ia pun menciptakan sistem drainase yang baik. Sehingga masyarakat tidak kebanjiran saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Itu semua berkat pola pikir dan bantuan orang-orang teknis dari Unhas dan Jepang.

Pekerjaan pertama inilah yang kemudian membuat Bantaeng lebih baik. Hingga akhirnya inovasi di bidang pertanian terus bermunculan. Tidak heran, kalau aneka macam buah bisa ditemukan di daerah ini.

Pekerjaan selanjutnya adalah memperbaiki infrastruktur. Nurdin memang tidak mau main-main. Ia mendatangkan ahli jalanan profesional dari Australia untuk mengerjakan seluruh jalan utama di Bantaeng.

Bahkan beberapa sisi jalan, ia kerjakan menggunakan uang pribadinya tanpa berpikir itu akan digantikan.

Tidak heran kalau hasil audit Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melakukan klarifikasi Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) di Sulsel, Bupati dua periode ini malah hartanya berkurang Rp14 miliar.

Jika selama ini, bupati yang mencanangkan tagline The New Bantaeng tersebut dikenal dengan terobosan-terobosan memukau di bidang tata kota dan kesehatan, kali ini BicaraID merangkum 10 terobosan besar dan keren Nurdin Abdullah di bidang pertanian.

1. Kabupaten Penghasil Benih Berbasis Teknologi
Pada 2012 lalu, Nurdin Abdullah membuat satu terobosan baru dan besar untuk pertanian di Bantaeng. Anggaran sebesar Rp2 miliar disiapkan untuk membeli bibit dari petani yang kemudian akan dikelola oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.

Masing-masing SKPD punya fungsi dan peran dalam mengurai bibit tersebut. Pencetakan benih dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak), melalui laboratorium kultur jaringan yang bekerja sama dengan Southeast Asian Regional Centre For Tropical Biology (Seameo Biotrop).

Bibit yang dihasilkan dari laboratorium itu tidak terputus. Bahkan tidak hanya dipakai oleh petani di Bantaeng saja. Hampir semua daerah di Sulsel berharap bibit unggul dari penguraian di Bantaeng.

2. Gerakan Sistem Tanam Legowo-21
Meski diawal-awal pemerintahannya, banyak yang belum paham sistem tanam Legowo-21 yang ia canamkannya. Namun, lambat laut, sistem ini menjadi satu hal yang menjanjikan. Karena sistem tanam 2:1 malah meningkatkan produksi petani.

Disisi lain, hama tanaman yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi petani bisa dihindari. Sistem ini juga terbukti mampu meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas tanaman pangan khususnya padi di Bantaeng.

3. Pengembangan Kawasan Agrowisata di Uluere
Balai benih yang dibuat Nurdin Abdullah juga menjadi terobosan lain di sektor agrowisata. Kecamatan Uluere yang terletak di perbukitan akhirnya disulap menjadi sesuatu yang keren. Di kawasan ini, buah apapun bisa ditemukan dan seperti tidak mengenal musim.

Dengan luas wilayah 60 hektare, pemkab Bantaeng mengembangkan tanaman apel dan stroberi di kawasan ini. Di antara kedua tanaman tersebut, diselipkan juga beberapa tanaman lainnya, seperti wortel, bawang merah, dan kentang untuk memanfaatkan lahan yang ada.

Pada 2009, sebanyak 10 ribu pohon dengan luas lahan 20 hektare. Pada 2010, sebanyak 20 ribu pohon dengan luas lahan 40 hektare. Rata-rata per hektare ada 500 pohon. Rata-rata jumlah buah per pohon sebanyak 7 buah.

Untuk 2011, dua kali panen perdana dilakukan pada Juni 2011, dan panen kedua Desember total 15 ton dari 5.000 pohon, dengan luas lahan 10 hektare.

4. Membentuk BUMDes
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan badan yang mengelola potensi desa untuk kesejahteraan warga desa. Kabupaten Bantaeng merupakan kabupaten di Sulsel yang telah berhasil mendorong tumbuh dan berkembangnya BUMDes dengan baik.

Dari 46 desa di Bantaeng seluruhnya telah memiliki BUMDes, bahkan pada tahun 2010 setiap BUMDes telah menerima bantuan modal sebesar 4,6 milyar, dimana setiap BUMDes menerima 100 juta. Pengembangan ini telah meningkatkan perekonomian masyarakat Bantaeng hingga tingkat desa-desa.

5. Mengembangkan Industri Pengolahan Hasil Pertanian
Kebijakan Pembangunan industri pengolahan hasil pertanian meliputi pembangunan industri pengemasan hasil dan pengepakan membawa sesuatu yang baru bagi masyarakat Bantaeng. pembangunan industri pengalengan hasil laut juga dilakukan hingga pengembangan industri olahan hasil komoditi wortel seperti Kripik SNEWOTA.

Hasil industri olahan pertanian Bantaeng bahkan telah masuk ke sejumlah pasar di luar Bantaeng dan bisa di dapatkan di mini market-mini market terkenal.

6. Pengembangan Teknik Inseminasi Sapi
Dalam sektor peternakan, Nurdin Abdullah juga tidak mau ketinggalan melakukan terobosan. Salah satu yang dinilai masyarakat cukup sukses dan berhasil adalah perbaikan kualitas ternak sapi melalui tekhnologi Inseminasi Buatan dan Laser Punktur.

Teknologi yang diterapkan ini mampu meningkatkan jumlah sapi di Bantaeng sejak 2009 hingga sekarang dengan kualitas yang unggul. Telah banyak daerah yang bahkan belajar ke Bantaeng untuk pengembangan teknologi ini.

7. Memanfaatkan Limbah Ternak Jadi Biogas di Pedesaan
Ini mungkin bukan hal baru di Indonesia. Telah banyak yang melakukan hal ini, namun untuk di Bantaeng, baru dibawah kepemimpinan Nurdin Abdullah hal ini dilakukan. Desa-desa yang banyak ternaknya memanfaatkan limbah menjadi energi alternatif.

Pemanfaatan menjadi biogas ini secara tidak langsung membantu mengurangi kebutuhan masyarakat terhadap gas. Selain dijadikan sebagai energi alternatif, limbah ternak juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik padat dan cair.

8. Memanfaatkan Limbah Pangan Jadi Pakan
Simbiosis mutualisme memang dimanfaatkan secara maksimal oleh Nurdin Abdullah. Selain memanfaatkan limbah ternak menjadi sesuatu yang berdaya guna buat masyarakat dan pertanian, limbah pangan pun disulap menjadi sesuatu yang berarti bagi pakan ternak.

Terobosan memanfaatkan limbah pangan dari perkebunan kopi, coklat, biji kapuk dan lain-lainnya menjadi pakan ternak adalah salah satu dari sekian banyak manfaat yang dihasilkan dari limbah.

9. Penangkaran Talas Bantaeng
Pemerintah Kabupaten Bantaeng menjadikan Kampung Bokara sebagai pusat penangkaran talas. Kawasan yang berada di atas ketinggian 300 meter di atas permukaan laut tersebut dinilai cocok sebagai tempat penangkaran.

Penangkaran dilengkapi dengan laboratorium kultur jaringan, sehingga dapat mempercepat kebutuhan bibit tanaman berbasis ekspor. Talas telah menjadi perhatian serius Bantaeng saat ini karena permintaan dari luar negeri yang semakin tinggi. Bantaeng menjadi ini sebagai peluang yang besar.

10. Budidaya Durian Tanpa Aroma dan Tanpa Musim
Nurdin Abdullah juga telah berhasil mengembakan budidaya durian yang tidak mengeluarkan aroma menyengat dan tidak mengenal musim. Setiap saat, buah durian di Bantaeng bisa dinikmati.

Buah durian yang dikembangkan di Bantaeng memiliki kadar kolesterol yang rendah. Durian ini juga adalah hasil rekayasa yang dikembangkan dengan teknologi pemupukan sehingga hasilnya lebih baik dari aslinya.

Meski budidaya durian ini masih bersifat kecil, namun dampaknya luar biasa. Perkebunan durian ini terletak di Desa Kacidu, Kecamatan Tompobulu dengan luas 2 hektar area.

IP/2016 )

Article Tags : Eddy Berutu
admin

Columnist, Cofounder of Avatar Global & Jumamatawari, sociopreneur in the insurance sector, respect cultural sensitivity with a local & global perspective.

Related Posts

Add new comment