Jalan Menuju Kejayaan

Menyisir KALDERA, Menggemakan TOBA

TOBA GRANFONDO 2016
Menyisir KALDERA, Menggemakan TOBA

Horas Halak Hita (H3) sukses gaungkan Toba ke mancanegara. 

Sekitar 250 pesepeda dengan penuh semangat mengayuh sepedanya mulai dari Kota Medan hingga Parapat, menempuh jarak sekitar 200-an kilometer selama dua hari (20-21 Agustus). 
    Mereka tampil di ajang Big Rides at Grand Caldera Toba Granfondo 2016 yang diinisiasi oleh Komunitas Horas Halak Hita (H3), sebuah perkumpulan yang peduli terhadap pengembangan dan kemajuan Danau Toba. Ini merupakan ajang reli sepeda terbesar dengan rute terpanjang yang pernah dilakukan. Meski bukan bersifat kompetisional, namun para peserta yang datang baik dari seantero Indonesia dan mancanegara tersebut tetap nampak begitu bersemangat menggoes sepedanya sampai garis finish di Hotel Niagara, Parapat.
    Sehari sebelum acara, para peserta dijamu dinner yang menghadirkan sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dalam sambutannya, Gubernur Sumut, Tengku Erry Nuradi mengatakan, ajang Toba Granfondo merupakan momentum penting untuk lebih memperkenalkan Danau Toba ke mancanegara. 
“Kita terus menggalakkan pariwisata dan Danau Toba menjadi salah satu dari 10 destinasi wisata handalan yang ditetapkan Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, kita punya tanggung jawab untuk terus memperkenalkan Danau Toba dengan segala keindahan, keragaman, dan budayanya kepada pihak lain. Dan, Toba Granfondo menjadi event yang penting dan harus terus dilakukan,” seru Erry.

Antusias
    Para peserta yang sedari pagi telah hadir mengaku sangat bersemangat mengikuti ajang ini. “Saya ingin sekali melihat keindahan Danau Toba. Apalagi kalau bisa menyisir Danau Toba dengan bersepeda,” kata salah satu peserta yang berasal dari Australia. Hal senada dikatakan peserta dari Singapura, “Saya pernah ke Danau Toba, tapi kali ini saya mau mencoba menyusuri Danau Toba dengan bersepeda. Pasti menjadi pengalaman yang menyenangkan”.
    Setelah mempersiapkan sepedanya, para peserta esok harinya berkumpul di Kantor Gubernur Sumut dan dilepas oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad yang ditandai dengan pelepasan balon udara dan bendera start. Para peserta yang mengenakan seragam biru dipercaya sebagai kapten, sementara mereka yang berbaju merah menjadi anggota. Acara pelepasan juga dihadiri oleh Wali Kota Medan Dzulmi Eldin. 
    Dalam sambutannya, Wali Kota Medan berharap, para peserta bisa menikmati perjalanan hingga sampai ke Parapat. “Menikmati keindahan Danau Toba adalah sesuatu yang tak akan terlupakan,” ujar Wali Kota disambut tepik riuh peserta. 
    Etape pertama, para peserta akan menempuh jarak sejauh lebih dari 120 kilometer dari Medan ke Tanah Karo. Para peserta akan melewati jalan menanjak dan menurun yang cukup terjal dan menantang. Tak heran, di tengah perjalanan para peserta sulit berada dalam satu rombongan karena ada yang kelelahan dan memilih beristirahat di bahu jalan.
    Para peserta dikawal, baik oleh jajaran kepolisian maupun panitia. Di sepanjang perjalanan, keceriaan mewarnai para peserta. Mereka saling bersenda gurau sambil menikmati panorama alam pegunungan. 
    Para peserta selain dari Indonesia juga berasal dari 19 negara, di antaranya Australia, Filipina, Malaysia, Singapura, Spanyol, Austria, USA, Inggris, dan Jerman. Para peserta menggunakan sepeda yang berkelas dan memang khusus digunakan untuk reli jarak jauh.
    Jalanan yang menanjak memasuki Tanah Karo yang berada di ketinggian 600-1.400 meter di atas permukaan laut tak membuat para peserta menyerah. Hamparan pegunungan yang tampak di depan mata menghadirkan sensasi tersendiri. Bahkan, salah satu peserta dari Jerman yang ditemui saat istirahat di sisi jalan mengatakan, “It’s a great moment. I feel no tired because I can see the wonderful mountains in Karo Land”. Selepas berkata demikian, ia langsung mengayuh kembali sepedanya.

Dr. Eddy Keleng Ate Berutu anggota pada komunitas H3 mengatakan, tahun ini H3 memilih Danau Toba sebagai fokus perhatian menyambut keputusan pemerintah untuk memutuskan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata baru nasional. “Sebagai sebuah danau vulkanik yang merupakan bekas kawah letusan gunung terbesar di dunia dengan sebuah pulau ditengahnya yang diberi nama Pulau Samosir adalah sebuah legacy. Kami yakin Danau Toba punya potensi besar untuk menarik wisatawan lokal, regional dan internasional,” jelas Eddy Berutu. 

Para peserta dapat merasakan sensasi bersepeda dengan track menyusuri tepi kaldera raksasa berikut nuansa pegunungan, pedesaan, dan sightseeing panoramic Danau Toba. 
Pada kesempatan lain Tengku Pardede anggota lain dari H3 menambahkan Danau Toba memiliki luas 1.707 kilometer persegi atau lebih dari dua kali luas Singapura, terbentuk dari letusan gunung purba raksasa yang menurut beberapa penelitian disaat letusannya sempat merubah iklim dunia dan membawa dunia ke dalam zaman es. Pulau Samosir adalah bagian kaldera yang tidak terendam air, terletak di tengah-tengah danau Toba dan merupakan pusat dari kebudayaan Batak. Fakta-fakta ini akan menarik bagi dunia.

Ditambahkan Eddy Berutu bahwa dalam rangka mendukung program pemerintah untuk pembangunan kawasan Destinasi Prioritas Danau Toba menjadi Tujuan Wisata kelas dunia, Horas Halak Hita menyelenggarakan Program Toba International Detour (TID). Dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu, Eddy Berutu mengatakan, program TID adalah rangkaian program promosi bagi Danau Toba yang diawali dengan program Fun Walk For Wonderful Toba (program jalan sehat), dan dilanjutkan dengan program program lainnya seperti Greatest Caldera Ride (program touring kendaraan motor gede dan scooter melintasi Sibolga-Parapat-Medan), Toba Granfondo program touring sepeda jarak panjang dengan jarak tempuh total kurang lebih 2.500 km), dan Samosir Lake Toba Ultra Marathon pada 17 September 2016.

Perjalanan dilanjutkan menuju Simalem Resorts, tempat peserta menginap. Sekitar pukul 14.00 WIB, para peserta sudah tiba di Simalem Resorts.  Para peserta langsung terkesima menyaksikan pemandangan Danau Toba dari kejauhan. Hamparan danau yang luas dan tiupan angin yang semilir, membuat para peserta tak selesai-selesai berselfie ria. Suasana begitu riuh di Simalem Resorts. Selain disuguhkan makanan ringan oleh panitia, para peserta juga akan bermalam di tempat ini untuk selanjutnya esok pagi melanjutkan perjalanan ke Parapat.

Menyisir kaldera
    Setelah cukup mengumpulkan tenaga, para peserta dengan penuh gairah memulai perjalanan etape ke-2 menyusuri Kaldera Toba. Kali ini pemandangan akan semakin luar biasa. Para peserta pun bergegas menyiapkan “kendaraannya” sebaik mungkin karena lintasan yang dilalui cukup berkelok-kelok.
    Benar saja, para peserta nampak begitu terpesona saat menyisir kaldera melintasi wilayah yang masuk Kabupaten Simalungun tersebut. Tak heran, sering para peserta berhenti untuk sekadar berselfie dengan latar Danau Toba yang indah.
    Setelah menempuh jarak sekitar 87 kilometer, para peserta pun tiba di Hotel Niagara yang menjadi tempat finish. Kelelahan menyelimuti peserta, namun kepuasan mampu membasuh rasa letih yang hinggap. “Kami sangat puas sekali menyaksikan keindahan Danau Toba. Sungguh sangat indah sekali. Ini merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa untuk masyarakat Sumut,” ujar Supri, pembalap yang berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah.
    Setibanya di Niagara, para peserta dikalungi medali sebagai bentuk apresiasi panitia untuk keikutsertaannya di event ini. Tidak itu saja, sebagian peserta melanjutkan berwisata di sekitar Danau Toba, bahkan ada yang menyeberang ke Tomok. Hanya 90 peserta yang memilih langsung kembali karena ada pekerjaan. 
Dalam sambutan penutupan sekaligus penyerahan medali bagi tiga peserta yang finish paling awal, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rachmat Waluyanto menyatakan terima kasih dan salut kepada H3 yang telah menyelenggarakan acara reli sepeda ini dengan sukses dan meriah
    Event Toba Granfondo menyisakan kenangan indah yang membekas di hati para peserta. Acara ini berjalan dengan sukses dan H3 patut mendapat apresiasi karena telah mampu menggelar acara berskala internasional ini. Tahun depan, event seperti ini sejatinya digelar kembali dengan peserta yang jauh lebih banyak lagi dan kalau bisa sudah bersifat kompetisional, sehingga gairah peserta semakin besar. Siapa yang tidak bangga menjadi kampiun di Tour de Toba 2017? (RN)        

Grand Caldera Toba Granfondo 2016
H3 Sukses Gelar Event Dunia dan Datangkan Wisatawan
       

Kehadiran para pembalap sepeda dunia membuktikan bahwa Komunitas Horas Halak Hita (H3) telah berhasil menggelar event berskala internasional. Tidak itu saja, H3 sudah berhasil membangkitkan gairah wisatawan untuk datang ke Danau Toba. Apa yang dilakukan H3 patutlah diapresiasi oleh semua pihak.
    Seperti dikatakan Dr. Eddy Keleng Ate Berutu, MA., salah seorang anggota H3, bahwa H3 adalah sebuah komunitas dari orang-orang yang peduli dengan pengembangan Danau Toba, terlebih dari aspek pariwisata. “Kita mau Danau Toba lebih mendunia dan orang berduyun-duyun datang ke sana. Dengan begitu, tentu berdampak bagi perekonomian di sana dan masyarakatnya akan lebih sejahtera,” ujarnya.
    Dia menambahkan, siapa saja boleh bergabung di H3, hanya saja dibutuhkan hati untuk bersama membangun Danau Toba. “Untuk mengembangkan Danau Toba juga dibutuhkan orang-orang yang punya hati dan kepedulian besar. Semakin banyak pihak yang menaruh kepedulian, Danau Toba juga akan semakin terangkat,” tandasnya penuh keyakinan.
    Ke depan, kata Eddy Berutu, H3 akan berpikir untuk menjadikan Toba Granfondo sebagai event rutin dan dijadikan perlombaan resmi. Dengan begitu tentu akan semakin banyak peserta yang ikut dan Danau Toba akan kian dikenal.  
 
Populerkan Toba
    Sementara itu Agustino Sidabutar Project Director Toba Granfondo menuturkan, “Sejak awal kami di H3 ingin mempopulerkan Danau Toba sampai ke mancanegara. Oleh karena itu, kami memilih ajang reli sepeda. Grandfondo sendiri kalau di luar negeri diartikan olahraga bersepeda jarak panjang. Karena itu, event ini kami namai Toba Grandfondo,” jelasnya.
    Soal pemilihan rute, Agustino menjelaskan, selain soal kesiapan infrastruktur, juga masalah hotel yang memadai. Karena peserta kan ada dari luar negeri, tentu kita harus memberikan service yang memuaskan. “Karena ini baru event pertama, maka kita buat rute hanya sampai 200 kilometer. Tadinya kita berpikir mau lebih panjang lagi, tapi mungkin itu bisa ditambahkan ke depan,” kata Agustino.
    Alasan diadakan acara ini, menurut Agustino simple saja, ingin membawa orang hadir ke Danau Toba melalui event olahraga. Dalam persiapannya, panitia sempat meminta Dinas Pekerjaan Umum untuk memperbaiki beberapa ruas jalan, terutama di Simarjarunjung dan Tinggarunggu. Sampai hari-H, jalan telah siap digunakan para pesepeda.
    Ke depan, tidak hanya jarak yang akan diperpanjang, tapi bukan tidak mungkin lokasi acara dipindah agar peserta juga bisa melintasi daerah-daerah lain di sekitar Danau Toba. Tidak itu saja, untuk menjadi event resmi skala internasional, tentu ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi. Dan, itu akan dilakukan inspeksi khusus dari badan olahraga sepeda internasional.
    Di akhir perbincangan, Agustino mengharapkan, ke depan keterlibatan masyarakat di sekitar Danau Toba sangatlah besar, demikian juga pemerintah daerah, sehingga ajang seperti ini bisa secara rutin dilakukan. 
    
Apresiasi besar
    Pengacara senior Dr. Todung Mulya Lubis yang hadir di acara dinner dengan gamblang mengatakan, salut dengan kinerja dari H3 ini. “H3 telah berhasil membuat event besar dan berkelas dunia lewat olahraga. Ini patut diapresiasi dan ke depannya harus didukung agar event serupa ini atau yang lainnya bisa diadakan di Danau Toba,” ujarnya.
    Ditambahkannya, dalam mendukung program pemerintah yang telah menjadikan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata nasional dan dunia, maka sebagai putra Batak dan Sumut pada umumnya kita punya tanggung jawab untuk mendukung hal tersebut dengan mengadakan berbagai acara yang mendukung hal tersebut. Dengan begitu, maka Danau Toba akan semakin populer di mata dunia internasional.
    “Danau Toba dan daerah di sekitarnya memiliki segudang kekayaan yang bisa diangkat ke permukaan. Karena itu, saya mengajak semua pihak, masyarakat, pemerintah daerah, para perantau untuk bersama-sama memikirkan apa yang bisa diperbuat untuk Danau Toba. Selain itu, ke depan, ekonomi Indonesia akan sangat bergantung pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” tukasnya seraya memberi contoh negara Taiwan yang tidak seindah Indonesia, tapi mampu mendatangkan wisatawan lebih dari 27 juta orang setiap tahunnya.
    Sementara itu, Gus Irawan Pasaribu, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra di sela acara dinner mengatakan, acara ini sangat pas digelar di Danau Toba. Karena itu, secara khusus Gus Irawan memberi apresiasi kepada H3 dan Dumoli Pardede yang telah mampu mengumpulkan halak hita untuk bersatu padu membangun Danau Toba menjadi destinasi wisata kelas dunia.
    Kepada pemerintah daerah, Gus Irawan berharap, ke depan bisa lebih mendukung event ini atau event lainnya. Melalui kegiatan ini, Gus berharap ada terobosan lain yang dibuat, baik oleh H3 atau komunitas manapun agar realisasi Danau Toba menjadi destinasi wisata dunia bisa terwujud.  
    
Gandeng OJK
    Dalam melaksanakan event ini, H3 menggandeng OJK. Mengenai hal ini, Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad di sela-sela pelepasan peserta di Kantor Gubernur Sumut mengatakan, OJK sangat mendukung event ini untuk menggalakkan pariwisata di daerah. Tidak hanya di Sumut, tapi OJK juga mendukung acara serupa diadakan di daerah-daerah lain.
    Muliaman mengatakan, industri pariwisata memiliki karakteristik yang besar. “Untuk mendukung hal ini tentu dibutuhkan pembiayaan, baik infrastruktur, perhotelan, kuliner, dan sebagainya. Karena itu, kami mengajak perusahaan-perusahaan pembiayaan yang ada untuk melihat langsung potensi daerah yang ada dan peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan ke depannya,” jelas Muliaman.
    Diakuinya, event promosi pariwisata di Toba adalah untuk pertama kali. Muliaman berharap ini menjadi contoh untuk daerah-daerah lain, utamanya 10 destinasi wisata lainnya. Guna mendukung hal tersebut OJK telah menandatangai nota kesepahaman dengan Kementerian Pariwisata dalam rangka mendukung pemerintah dalam pengembangan 10 destinasi pariwisata baru di Indonesia.

Respon besar
    Lebih jauh Muliaman mengatakan, respon dari perusahaan-perusahaan pembiayaan sangat besar untuk mendukung kemajuan pariwisata. Bahkan, mobilisasi dana pada tahap awal bisa mencapai Rp 1 triliun. Jadi, itu diarahkan bukan hanya membangun resorts atau hotel yang besar, tapi juga membantu masyarakat untuk membuat home stay. Dengan begitu, perekonomian masyarakat di sekitar destinasi wisata akan sejahtera.
    “Kita memberi perhatian besar pada sektor pariwisata. Karena selama ini keluhannya soal pembiayaan dan itu yang menjadi fokus perhatian kita,” cetusnya. 
    Event ini, tambah Muliaman, bisa menjadi contoh di mana penting keterlibatan komunitas seperti H3 ini untuk menjadi partner dalam mengadakan event-event skala besar, juga masyarakat sekitar dan tentunya pemerintah daerah.
    Keterlibatan perusahaan pembiayaan tentu mengharapkan respon dari masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Muliaman menjelaskan, intinya harus ada yang mulai lebih dulu. Karena bicara pariwisata itu tentu yang dikedepankan adalah services (pelayanan). Dan, untuk itu dibutuhkan perubahan mentalitas dari masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah daerah punya tugas memberi pengarahan dan penyadaran kepada masyarakat untuk siap memasuki era pariwisata yang terbuka.
    Dengan masyarakat yang siap, maka pariwisata akan mudah dikembangkan, turis datang dan masyarakat menerima dengan segala keramahan. Selain itu, pariwisata memiliki banyak nilai tambah, seperti kerajinan tangan, kuliner, transportasi, kebudayaan, dan sebagainya yang tentunya harus melibatkan masyarakat. Nah, kalau masyarakatnya tidak siap, maka pengembangan pariwisata akan mengalami stagnasi.

Dukung terus
    Senada dengan Muliaman, Dumoli F. Pardede Direktur Pengawasan Asuransi OJK yang juga Koordinator H3 menjelaskan, OJK punya komitmen besar untuk membantu pengembangan pariwisata di Indonesia, salah satunya Danau Toba. “Kami mensupport dengan melibatkan perusahaan keuangan untuk membantu program-program pengembangan pariwisata,” ungkapnya.
    Salah satu alasan OJK mendukung pariwisata, kata Dumoli adalah untuk lebih mendekatkan sektor keuangan kepada masyarakat. “Untuk acara Toba Granfodo sendiri sejumlah perusahaan perasuransian terlibat, seperti AIA, Prudential, Mandiri. Coba bayangkan kalau perusahaan-perusahaan ini bisa hadir sampai ke kota-kota kecil, tentu akan sangat luar biasa. Juga memicu semangat generasi muda, siapa tahu mereka bisa bekerja di perusahaan keuangan dan pergi sampai ke luar negeri,” kata Dumoli.
    Bicara soal target, Dumoli mengatakan, kami ingin merangsang masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata. Selain itu, dunia perhotelan berkembang, kuliner semakin maju, kerajinan tangan semakin tumbuh, dan sebagainya. Hal-hal tersebut sangat dibutuhkan dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
    “Kami di OJK mendorong H3 untuk terus aktif dengan berbagai kegiatan untuk pengembangan pariwisata, tidak hanya di Danau Toba, tapi juga di Sumatera Utara pada umumnya,” tukas Dumoli.
    Di era keterbukaan sekarang ini, dibutuhkan tangan-tangan kreatif untuk bisa mengolah suatu ide besar dan merealisasikan dengan tujuan mengembangkan dunia pariwisata di Indonesia. Selamat untuk H3! (RN)

    

        

 

admin

Columnist, Cofounder of Avatar Global & Jumamatawari, sociopreneur in the insurance sector, respect cultural sensitivity with a local & global perspective.

Related Posts

Add new comment